Tata Cara Melaksanakan Ibadah Aqiqah Anak

jasa aqiqah

Salah satu karunia anak yang berharga adalah anak. Dengan memiliki anak, maka pasangan suami istri akan mendapatkan penerus yang membantu dan mengasihi mereka nantinya. Oleh sebab itulah, para orang tua harus bisa mendidik anak menjadi anak sholeh sholehah. Dalam ajaran Islam, untuk mensyukuri kehadiran seorang anak dengan menyelenggarakan aqiqah. Secara singkat, aqiqah merupakan proses menyembelih hewan ternak (kambing atau domba) oleh orang tua yang dikaruniai seorang anak. Dimana nanti daging sembelihan ini akan diberikan kepada kerabat, tetangga dan orang yang membutuhkan. Namun sebelum dibagikan, biasanya daging aqiqah ini sudah dimasak terlebih dahulu. Selain itu juga biasanya ditambahkan nasi serta lauk pauk dan dibungkus menggunakan kotak.

9 Tata Cara Menyelenggarakan Ibadah Aqiqah

Ibadah aqiqah memiliki tiga hukum pelaksanaan. Yakni wajib, sunnah muakkad, dan sunnah. Bagi orang tua yang memiliki finansial berkecukupan, maka diwajibkan untuk melaksanakan ibadah akikah. Tetapi untuk orang tua yang kurang mampu dalam finansial, maka bisa dilakukan di lain hari. Sedangkan untuk orang tua yang benar-benar tidak mampu melakukan ibadah aqiqah, maka tidak diharuskan untuk melaksanakan ibadah aqiqah ini. Untuk pelaksanaan adalah di hari ketujuh lahirnya anak. Berdasarkan hadits,

Rasulullah bersabda : “Semua bayi tergadaikan dengan aqiqah-nya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur rambutnya.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Bagi Ayah Bunda yang ingin menyelenggarakan ibadah aqiqah, maka harus mengetahui tata caranya terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan supaya nantinya tidak salah dalam menyelenggarakan ibadah aqiqah.

  1. Jumlah Hewan yang Disembelih

Antara anak laki-laki dan perempuan, jumlah hewan yang disembelih sendiri berbeda jumlahnya. Untuk anak laki-laki menggunakan dua ekor kambing. Sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing saja. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan, Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya berkata jika Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.”

Untuk jenis kelamin kambing yang disembelih pun boleh jantan atau betina. Akan tetapi yang utama tetaplah menggunakan kambing atau domba jantan.

  1. Pilih Hewan Aqiqah Sesuai Syariat

Kambing atau domba yang akan disembelih pun tentunya harus memenuhi syarat terlebih dahulu. Untuk syarat hewan aqiqah sendiri sama dengan hewan qurban. Yang artinya harus sehat, tidak ada cacat, bebas penyakit dan sudah mencapai usia minimal untuk disembelih. Disunahkan juga, daging akikah sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 172 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

  1. Waktu Dilaksanakan Aqiqah

Banyak ulama yang berpendapat jika waktu aqiqah adalah 7 hari setelah kelahiran bayi. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Samurah bin Jundab, Rasulullah bersabda: “Semua anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelihkan hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.”

Akan tetapi jika belum mampu untuk melaksanakan ibadah aqiqah, maka bisa diganti pada hari ke-14 atau ke-21. Untuk umat muslim yang memiliki kondisi finansial buruk, maka terlepas dari kewajiban menyelenggarakan aqiqah. Ada pula ulama yang menyatakan jika aqiqah bisa dilakukan kapan saja sampai sudah mampu. Bahkan, anak yang sudah dewasa pun bisa mengaqiqahkan diri sendiri jika orang tua tidak mampu ketika anak tersebut masih kecil.

  1. Mencukur Rambut Anak

Hal pertama yang harus dilakukan ketika melaksanakan ibadah aqiqah adalah mencukur rambut anak sampai gundul. Ini dimaksudkan supaya anak bisa bebas dari godaan setan yang menyertai ketika lahir. Ketika mencukur rambut bayi disertai doa, yang artinya sebagai berikut;

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasululullah SAW, dan segala puji Bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Dalam mencukur rambut anak pun juga ada tata caranya, yakni:

  • Arah saat mencukur rambut dimulai dari bagian kanan ke kiri
  • Rambut anak dicukur semua (gundul), jadi tidak ada kotoran yang menempel atau tersisa
  • Rambut hasil cukur ditimbang dan jumlah timbangan dinilai menggunakan nilai emas atau perak. Nantinya nilai tersebut disedekahkan pada fakir miskin

Jadi memotong rambut anak bukan hanya sekadar memotong saja. Namun tetap ada patokannya untuk menjadikan lebih berkah.

  1. Memberikan Nama Anak

Jika proses mencukur rambut anak sudah selesai dilaksanakan, maka orang tua harus memberikan nama pada anak. Nama tidak hanya berguna untuk memanggil saja, tetapi juga sebagai do’a. Oleh sebab itulah, sangat dianjurkan para orang tua memberikan nama anak yang bagus dan baik. Memberikan nama anak yang baik mencerminkan akhlak dan iman kepada Allah SWT nantinya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda;

“Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka baguskanlah namamu.” (HR Muslim)

  1. Mendo’akan Anak yang Diaqiqahi

Mendokan merupakan perbuatan baik yang dilakukan demi keselamatan dan masa depan buah hati. Saat aqiqah dilaksanakan, sebaiknya mengucapkan doa ini;

“U’iidzuka bi kalimaatillaahit tammaati min kulli syaithooni wa haammah. Wa min kulli ‘ainin laammah.”

Yang artinya: Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang penuh kebencian.

  1. Menyembelih Hewan Ternak (Kambing atau Domba)

Tata cara ibadah aqiqah yang selanjutnya adalah menyembelih hewan ternak (kambing atau domba) yang memenuhi syarat. Sebelum menyembelih kambing, disunahkan untuk membaca doa berikut ini;

“Bismillahi wa billahi, allahumma ‘aqiqatun ‘an fulan bin fulan, lahmuha bilahmihi si azhmihi, allahummaj’alha wiqaan liali muhammadin ‘alaihi wa alihis salam.”

Yang artinya: Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan kepada keluarga Muhammad SAW.

  1. Memasak Daging Aqiqah

Rasulullah SAW menyelenggarakan aqiqah dengan memasak daging sembelihan. Jumhur ulama lebih menganjurkan supaya daging aqiqah dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Hal ini diungkapkan dalam kitab Atahzib yang ditulis oleh Imam Al-Baghawi, yang artinya;

“Dianjurkan untuk tidak membagikan daging hewan aqiqah dalam keadaan mentah, akan tetapi dimasak terlebih dahulu kemudian diantarkan kepada orang fakir dengan nampan.” (Imam Al-Baghawi dalam kitab Atahzib)

Ada pula pendapat yang ditulis dalam kitab Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah yang artinya, “Kebanyakan ahlul ilmi menganjurkan agar daging hewan aqiqah tidak dibagikan dalam keadaan mentah, namun dimasak terlebih dahulu kemudian disedekahkan pada orang fakir.”

  1. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Daging aqiqah tidak hanya harus dimasak saja, tetapi orang tua yang melaksanakan ibadah aqiqah juga dianjurkan untuk memakannya sebagian. Hal ini sesuai hadits yang diriwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah dimasak dulu dan dimakan oleh keluarga, baru dibagikan.

Aisyah r.a berkata, “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.” (HR al-Bayhaqi)